CERMIN BUAH KELAPA

Wahai sauadaraku seiman dan seagama, sebagai seorang muslim kita harus mengetahui isi Islam (Dinul Islam) yang sempurna agar kita menjadi manusia yang bermakna. Kan kuibaratkan Islam itu bagaikan ‘kelapa’ sebab semua ciptaan Allah itu sebagai bukti adanya Allah. Islam itu terdiri atas;

  1. 1. Syari’at

Syari’at itu tata dzahir, disini yang kita pelajari ilmu fiqih, kuibaratkan bagai kulit kelapa. Kelapa itu bermacam-macam ada yang hijau, kuning, merah, dll. jadi jika kita hanya mempelajari syari’at saja, maka akan terjebak dan memperdebatkan tentang warna kulitnya saja, jika ia melihatnya kelapa yang berkulit kuning ia akan mempercayai bahwa kelapa itu yang berwarna kuning, demikian juga yang lain. Begitulah jika yang yang kita pelajari syari’at saja maka akan berdebat terus menerus karena kita meyakini bahwa yang kita lihat itulah yang benar, maka akan menyalahkan pendapat atau pemikiran orang lain.

  1. 2. Thariqat.

Artinya jalan menuju Allah, jadi seorang thariqot akan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ini diibaratkan bagai tempurung (bathok, jawa). Bathok itu bersifat keras, maka kebanyakan orang thoriqot juga keras karena harus menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya, sangat berat jika tidak didasari oleh kemauan yang keras.

Karena merasa sudah bisa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka timbullah anggapan sudah mencukupi dan sudah benar segala tindakannya. Padahal ibadah yang kita kerjakan belum tentu diterima Allah, sehingga kita tidak boleh membanggakan diri dan menganggap bahwa amalan yang kita kerjakan sudah pasti membawa kita ke surga. Guru saya Mbah Munawar (Karang Anyar) mengatakan bahwa orang sholeh itu belum tentu masuk surga menunggu hisab terlebih dulu,  sedangkan para Nabi, Rasul dan Waliullah-lah yang sudah pasti  masuk surga.

Thoriqot itu ‘jalan’ bukanlah hanya sekedar bacaan wirid saja tanpa berjalan (bersuluk). Di Indonesia banyak thoriqot yang mu’tabaroh, tetapi sayang, biasanya hanya sekedar wiridan saja dan para jama’ahnya tidak diberitahu ‘perjalanan keilmuannya’ hal itu sebenarnya tak dikehendaki. Kita membaca wirid Allah sekali dengan ilmu itu lebih baik daripada seribu kali tanpa ilmu.

  1. 3. Hakikat

Hakikat itu kebenaran diatas kebenaran, sebagus-bagus orang awam itu sejelek-jeleknya orang sufi. Hakikat diibaratkan bagai daging kelapa, yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam jenis makanan. Jadi orang hakikat sudah mulai bermanfaat bagi umat, tetapi tidaklah cukup sampai disini. Karena belum menemukan hakikat ‘kelapa’

  1. 4. Ma’rifat

Orang yang menjalankan syari’at dan thoriqot akan menemukan hakikat, dan orang yang menjalankan ketiganya yakni syari’at, thoriqot, dan hakikat pada akhirnya akan menemukan ma’rifat. Ilmu ini tidak bisa diuraikan secara lisan maupun tulisan. Karena tidak bisa dideskripsikan lagi, hal ini diibaratkan sebagai ‘santan’ nya kelapa. Sehingga orang ma’rifat akan ‘diam’ tidak ada lagi tanya dan persangkaan, karena sudah jelas, dan jika diuraikan akan menjadi salah, karena santan itu putih seperti susu padahal dia bukan susu.

  1. 5. Wusul

Wusul merupakan tingkatan tertinggi dalam perjalanan mencari Tuhan. Santan jika direbus terus menerus akan menjadi minyak, dan minyak mempunyai ‘nilai’ yang tinggi, sehingga orang yang telah wusul akan mempunyai kualitas keimanan yang tinggi dan bermanfaat untuk umat. Inilah yang dinamakan ‘insanulkamil’ manusia sempurna dan menjadi rahmatalil’alamin (mengasihi untuk seluruh alam, tidak membeda-bedakan golongan). Dengan mengenali ciri-ciri ini, kita niscaya tidak akan tersesat dalam perjalanan mencari atau menuju Allah.

Satu Tanggapan to “CERMIN BUAH KELAPA”

  1. asmen Says:

    Pada dasarnya saya memahami dan setuju isi dari uraian materi diatas, tetapi didalam pencapaian kesempurnaan manusia saya sungguh tidak berani sama sekali apa lagi ada tingkatan Wusul merupakan tingkatan tertinggi dalam perjalanan mencari Tuhan…..saya hanya mengetahui sedikit ilmu tentang ketundukan dan ketaatan kita Kepada Allah SWT…dan itu pun saya belum paham betul bagaimana sebenarnya yang tunduk dan patuh kepada pencipta kita sesuai dengan Al Quran…saya takut kalau kebenaran yang kita anggap benar itu belum tentu benar….apalagi yang katanya akal pikiran logika manusia…itu bisa menjerumuskan kita kalau tidak bersandaran al quran…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: